Deskripsi
No More FOMO!
Menurut riset yang kami lakukan ‘FOMO Purchase Among Indonesian Youth’ (Youthlab, 2024), di 10 kota di Indonesia dengan melibatkan 553 responden muda berusia 15–35 tahun, kelompok usia Gen Z (15–24 tahun) mengalokasikan lebih dari setengah pendapatan mereka untuk memenuhi keinginan pribadi.
Di balik perilaku konsumtif ini, tersimpan kecemasan untuk tidak tertinggal tren, atau yang dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out). Indonesia kini dilabeli oleh masyarakatnya sendiri sebagai ‘Negara paling FOMO’.
Dalam buku The Anxious Generation, professor Jonathan Haidt mengungkap bahwa generasi yang tumbuh di era media sosial mengalami tingkat kecemasan dan masalah psikologis yang jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
FOMO telah mengubah cara anak muda mengambil keputusan, dari membeli skincare karena teman, makanan viral karena tren, hingga pakaian karena influencer. Media sosial menciptakan invisible pressure untuk tampil ‘seperti mayoritas’, membuat banyak dari mereka membelanjakan lebih banyak demi validasi sosial yang sifatnya sementara.
Pada sesi ini berdurasi 8 menit, memaparkan:
1. Memahami bagaimana sosial media membentuk FOMO dan mempengaruhi anak muda.
2. Bagaimana keluar dari jebakan FOMO dan beralih menuju JOMO.
3. Menerapkan JOMO bagi diri sendiri
Dr. Muhammad Faisal, Founder dan Research Advisor Youthlab, selama 16 tahun telah membantu brand multinasional, agency, dan secara rutin memberi enlightment dan materi ke ratusan anak muda, juga penulis buku bestseller ‘Kembali ke Akar’ dan ‘Ayo Nak: Menggali Pola Asuh Bagi Generasi Digital’.
